JAKARTA,mediasulutgo.com — Guncangan besar menghantam pasar keuangan Indonesia pada Senin (18/5/2026). Rupiah terpuruk hingga menyentuh Rp17.630 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok hampir 4 persen dalam perdagangan pagi. Di tengah kepanikan investor dan derasnya aksi jual saham, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta publik tetap tenang dan tidak panik menghadapi tekanan pasar.
Tekanan pasar terlihat brutal sejak pembukaan perdagangan. IHSG langsung terseret ke level 6.470,34 setelah anjlok 3,76 persen pada sesi pertama. Sebanyak 682 saham ambruk di zona merah dan hampir seluruh sektor perdagangan ikut tertekan.
Sektor basic industry menjadi yang paling terpukul setelah merosot lebih dari 8 persen. Nilai transaksi perdagangan juga melonjak hingga Rp12 triliun dengan volume mencapai 21,6 miliar saham.
Di saat pasar bergejolak, rupiah juga terus mengalami tekanan akibat sentimen global dan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang emerging market.
Meski situasi memanas, Purbaya memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak sama dengan krisis moneter 1998. Ia menilai fundamental ekonomi nasional masih jauh lebih kuat dibanding periode krisis dua dekade lalu.
“Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda,” kata Purbaya usai menghadiri acara di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma.
Menurutnya, krisis 1998 dipicu resesi panjang yang diperparah instabilitas sosial-politik dan kesalahan kebijakan ekonomi. Sementara saat ini, pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi domestik masih tetap terjaga di tengah tekanan global.
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak lemah di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS karena tingginya tekanan eksternal terhadap negara berkembang.
Untuk menjaga stabilitas pasar, pemerintah mulai meningkatkan aktivitas di pasar obligasi guna menahan tekanan investor asing dan menjaga stabilitas surat utang negara.
Di tengah kondisi pasar yang berdarah-darah, Purbaya bahkan meminta investor tidak takut memanfaatkan momentum koreksi pasar saham.
“Jangan takut serok bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari sudah balik,” ujarnya.(*)















