JAKARTA,mediasulutgo.com — Tekanan di pasar saham kembali memuncak ketika saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terjun bebas lebih dari 32 persen dalam setahun terakhir. Di saat investor asing terus melepas saham dan pasar berada dalam tekanan, konsensus analis justru tetap kompak menyebut: “buy”.
Saham bank terbesar di Indonesia ini ditutup di level Rp6.100 pada perdagangan Selasa (13/5/2026), turun 32,22 persen secara tahunan dan melemah 24,46 persen sejak awal 2026. Koreksi ini terjadi di tengah derasnya aksi jual yang semakin memperdalam tekanan di sektor perbankan.
Dalam satu hari perdagangan saja, BBCA masih mencatat tekanan lanjutan dengan nilai transaksi hampir Rp900 miliar dan arus keluar asing sebesar Rp91,76 miliar. Pola ini memperkuat tren net sell yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Tekanan sebelumnya bahkan sempat melonjak tajam. Pada akhir April 2026, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih hingga Rp690,95 miliar dalam satu sesi, saat harga saham sudah berada di area yang semakin tertekan.
Namun di tengah kepanikan pasar tersebut, arah rekomendasi analis justru tidak ikut panik.
Sebanyak 35 analis masih mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA, sementara hanya dua yang menyarankan hold dan tidak ada yang merekomendasikan sell.
Konsensus juga masih menempatkan target harga rata-rata di level Rp8.912 per saham, atau sekitar 46 persen lebih tinggi dari harga saat ini. Bahkan target optimistis analis mencapai Rp10.900 per saham.
Manajemen BBCA sebelumnya menegaskan bahwa fundamental perusahaan tetap solid dan operasional bisnis berjalan normal meski pasar saham sedang bergejolak.
Struktur kepemilikan juga masih kuat, dengan PT Dwimuria Investama Andalan sebagai pemegang saham mayoritas sebesar 54,94 persen, sementara investor institusi global seperti Government of Norway masih tercatat dalam daftar pemegang saham.
Di tengah tekanan jual asing, koreksi harga beruntun, dan sentimen pasar yang melemah, BBCA kini berada dalam posisi kontras: pasar tampak panik, tetapi analis justru tetap optimistis—memunculkan pertanyaan besar di kalangan investor, apakah ini peluang akumulasi atau awal tekanan yang lebih dalam.(**)















