JAKARTA,mediasulutgo.com — Data penerima bantuan sosial ternyata tidak pernah benar-benar tetap. Bahkan, bisa berubah setiap hari—dan jika terlambat diperbarui, dampaknya bisa fatal.
Bukan sekadar salah sasaran. Bantuan bisa tetap mengalir ke orang yang sudah meninggal.
“Kalau terlambat melaporkan, berarti kita membantu orang yang sudah meninggal,” tegas Menteri Sosial Syaifullah Yusuf.
Fakta ini mengungkap sisi krusial dari sistem bansos nasional yang selama ini jarang disadari publik.
Data yang digunakan pemerintah melalui DTSEN bersifat dinamis. Perubahan kondisi ekonomi, perpindahan alamat, hingga kematian warga harus terus diperbarui.
Masalahnya, tidak semua perubahan langsung tercatat.
Di sinilah celah itu muncul.
Untuk mencegah hal tersebut, Kementerian Sosial membuka akses bagi masyarakat untuk ikut mengecek sekaligus memperbarui data penerima bansos.
Melalui aplikasi “Cek Bansos” atau situs resmi, masyarakat bisa memastikan status mereka—bahkan mengusulkan perubahan jika menemukan ketidaksesuaian.
Pemerintah juga membuka jalur laporan, baik melalui RT/RW hingga layanan digital.
Namun pada akhirnya, satu hal jadi penentu.
Seberapa cepat data diperbarui.
Jika terlambat, bantuan bisa terus mengalir… ke orang yang seharusnya tidak lagi menerimanya.(*)















