penas

boltara
OPINIPENDIDIKAN

Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan Makin Buram dan Memprihatinkan

×

Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan Makin Buram dan Memprihatinkan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mona Fatnia

Refleksi Hardiknas
Illustrasi

OPINI,mediasulutgo.com — Jika kita bicara soal Pendidikan, tentu tak asing jika dibaliknya tersimpan bobroknya tatananan dalam pengamplikasiannya dalam berbagai jenjang yang ada. Mulai dari kekerasan yang tak berkesudahan, kasus kecurangan yang kian massif terjadi, mobilisasi penjualan barang terlarang hingga yang paling memilukan merendahkan guru didepan khalayak umum. Alhasil, Pendidikan hanyalah topeng yang dibaliknya justru menyisakkan kecatatan permanen. Lantas, jika 02 Mei sering kali dijadikan ajang perayaan Hari Pendidikan Nasional, lalu dikemanakah sebenarnya arah Dunia Pendidikan hari ini, jika para elit kuasa bahkan pemangku kebijakan tak mampu menghadirkan Solusi guna mencerahkan wajah Pendidikan hari ini, atau semua hanyalah seremonial upacara yang tiap tahun berulang Kembali.

Dunia Pendidikan, Riwayatmu Kini

Advertisement
Refleksi Hardiknas
Scroll kebawah untuk lihat konten

Bicara soal Dunia Pendidikan memang tak akan pernah habis dibahas dari wajahnya hingga geraknya semuanya terorganisir sesuai post-postnya, apalagi dunia Pendidikan adalah gerbang menuju perubahan bagi setiap generasi, kunci bagi mereka yang ini melangkah meraih mimpi. Namun, tiap tahun kita sering merayakan Hari Pendidikan Nasiona, tapi nyatanya dunia Pendidikan tak seindah yang dipandang, justru makin kesini riwayat Pendidikan makin buram dan sangat memprihatinkan.

Seperti halnya yang terjadi pada bulan April kemarin, melansir dari laman kumparan.com 21/4/2026, seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun) dijalan urip, caturharjo, pandak, Kabupaten Bantul, dikeroyok secara sadis, brutal, keji tidak manusiawi, dan tanpa ampun oleh para pelaku yang berjumlah 7 orang. Korban dipukul menggunakan selang, paralon, hingga disundut dengan rokok bahkan yang lebih sadis digilas menggunakan sepeda motor yang kesemuanya dilakukan oleh orang yang tak dikenal, akibatnya siswa tersebut dinyatakan meninggal pasca sempat dirawat di rumah sakit akibat luka yang dideritanya. Motif pembunuhannya pun dikarenakan balas dendam.

Hal senada pun terjadi di bogor, melansir dari detik.com, 22/4/2026, 2 pelajar SMA di Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat yang disiram air keras hingga alami luka di wajah. Peristiwa itu terjadi saat kedua korban dalam perjalanan pulang ke rumah seusai nongkrong lalu disiram air keras oleh orang tidak dikenal yang akibatnya, kedua korban mengalami luka pada bagian wajah.

Bak gayung bersambut, Dunia Pendidikan tak henti-hentinya didera masalah yang saling sambung-menyambung. Kita tau bersama bahwa kasus kekerasan dilembaga Pendidikan hari ini kian meningkat dan semakin mengkhawatirkan. Hal ini terungkap hasil pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia menunjukkan, terdapat 233 kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan Pendidikan dalam tiga bulan terkahir. Seperti kasus dugaan pelecehan seksual di dala  grup aplikasi pesan oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Sebanyak 16 mahasiswa FHUI menjadi pelaku pelecehan seksual. (Kompas, 14/4/2026).

Ini pun tak jauh beda fakta yang mencegangkan didunia perkampusan, kecuarangan berupa praktik perjokian UTBK-SNBT terungkap di Surabaya, Jawa Timur. Perjokian ini guna meluluskan calon mahasiswa program studi kedokteran, Dimana pelaksanaan UTBK-SNBT di Surabaya memasuki hari kedua, secara umum ujian pada hari ini berlangsung dengan tertib. Namun, sehari sebelumnya, panitia menangkap terduga joki di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Pembanguna Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur. Pelaku diketahui menggunakan identitas palsu berupa KTP dan Ijazah guna melancarkan akal bulusnya. (Kompas, 24/4/2026).

Dilansir dari detik.com, Rabu 22/4/2026, di Unair terduga joki diduga sudah terendus identitasnya hingga akhirnya memilih tidak hadir di lokasi ujian. Hal ini sudah dibaca oleh panitia yang mengantongi daftar nama suspect joki berdasarkan data dari pusat (SNPMB), menurut Kordinator Pelaksana Pusat UTBK SNBT Unair, I Narsa mengatakan, telah mengantongi informasi data peserta suspect joki dari SNPMB. Made pun menjelaskan, terduga pelaku merupakan “pemain lama”. Satu orang diketahui pernah mengikuti UTBK pada tahun 2025, namun mendaftar Kembali pada tahun 2026 dengan identitas yang berbeda namun menggunakan foto yang sama. Meski lokasi ujian suspect sudah dipantau ketat di Kampus C Unair, yang bersangkutan justru tidak menampakkan batang hidungnya.

Wajah Buram Pendidikan Hari Ini

Tepat sepekan peringatan Hari Pendidikan Nasional baik dari Tingkat pusat hingga daerah semua memperingatinya, namun apa mau dikata ketika hardiknas justru menjadi buah simalakama, menjadi  alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan hari ini.

Pendidikan layaknya seorang ibu, sedang anaknya bagaikan generasi. Ketika ibu sakit segala ketidaksesuaian disekitarnya menjadi kacau, tak beraturan bahkan tak berjalan sebagaiman mestinya. Seperti tanaman tanpa air, gersang dan mati. Wajah Pendidikan pun demikian sama,  jasadnya utuh, tapi ruhnya tidak ada, hanya keburaman yang ditampakkan, sedang perubahan tak pernah terpatri dalam gerak dan implementasinya. Berbagai fakta yang kian mencuat kepermukaan menjadi alarm keras bagi pendidikan di negeri ini, bukan untuk para pelajaranya melainkan bagi para pemangku kebijakan yang tidak bisa membawah arah Pendidikan ke tingkat yang lebih baik.

Seringnya fenomena dekadensi moral yang menimpa para siswa di negeri ini menunjukkan bahwa Pendidikan sebenarnya belum berhasil membentuk akhlak dan pengendalian diri sisiwa, padahal itu adalah tujuan utama Pendidikan sejati. Kegagalan implementasi arah/peta jalan pendidikan juatru menghasilkan pelajar yang krisis kepribadiannya, yaitu cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral. Karena pada dasarnya dunia Pendidikan hari ini sebenarnya hanya berfokus pada aspek kognitif (nilai dan ujian) saja, tetapi lemah dalam pembentukan adab, etika, nilai moral serta ketaatam pada agama. Padahal tanpa moral, Ilmu serta agama justru bisa menjadi alat kerusakan. Ini pun juga mengarah pada capain akademik, kualitas Pendidikan Indonesia juga masih tertinggal jauh. Pada hasil Program for Internasional Student Assesment (PISA) bahwa kemampuan literasi, numerasi, dan sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Ini tentu menunjukkan bahwa system Pendidikan belum mampu menghasilkan siswa yang unggul secara akademik, kritis, kompetitif di Tingkat local maupun Tingkat nasional. (Guru Muslimah Inpiratif, 02/5/2026).

Persoalan berikutnya menyangkut kesejahteraan dan distribusi tenaga Pendidikan. Masih banyak guru honor yang mendapatkan upah jauh di bawah standar kelayakan, padahal mereka memegang peran strategis dalam proses Pendidikan. Ketimpangan ini pun tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu guru, tetapi pada kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Di sisi lain, dunia Pendidikan di negeri ini juga menghadapi krisis moral yang semakin mengkhawatirkan. Kasus kekerasan di lingkungan Pendidikan, termasuk perundungan dan pelecehan seksual, menunjukkan tren peningkatan, bahkan terjadi di Tingkat perguruan tinggi. Fenomena ini menjadi alarm serius bahwa Pendidikan belum sepenuhnya berhasil membangun lingkungan yang aman dan beradab seperti yang sering didaungkan oleh para pejabat. (Kaffah, 08/05/2026).

Jika melihat arah dan peta jalan Pendidikan saat ini tentu belum mampu membentuk dan menghasilkan kepribadian utuh siswa. Para siswa justru muncul dengan krisis kepribadian akibat penerapan system sekuler (memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan), budaya liberal (kebebasan tanpa batas nilai) dan kehidupan yang pragmatif (mengutamakan hasil instan daripada proses). Fenomena ini justru memberi dampak negative pada pelajar yang masih jauh dari predikat intelektual sejati yang seharusnya berilmu sekaligus beradab. Apalagi Sistem pendidikan sekuler kapitalistik menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar.

Disisi lain, peran negara sebagai penanggungjawab penuh terhadap keberlangsungan generasi hari ini justru abai bahkan lepas tangan untuk memperbaiki wajah Pendidikan yang kain suram. Terlihat dari beberapa kebijakan yang justru hanya menjadikan Pendidikan dan Kesehatan dalam hal ini sebagai prioritas pendukung, bukan sebagai yang utama dalam  Belum lagi efisiensi anggaran yang dilakukan pada Perpusatakaan Nasional (Perpusnas) RI yang mengalami pemotongan anggaran sebesar Rp 441, 83miliar atau sekitar 47% pada tahun 2025 yang dampaknya adalah resiko kerusakan koleksi Perpusnas hingga pemangkasan jam operasional dengan menutup layanan pada hari Minggu. Ini justru menutup jalan bagi generasi hari ini untuk bisa menggunakan layanana Perpusnas. (Tempo, 25/02/2026).

Belum lagi longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar (mayoritas masih di bawah umur) sehingga menoleransi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata. Selain  itu, banyak pelaku kekerasan di kalangan  pelajar tidak mendapatkan sanksi tegas karena dianggap masih di bawah umur. Karena dalam prakteknya seringkali tidak menimbulkan efek jera bahkan justru menormalisasi perilaku  criminal sebagai “kenakalan remaja”. (Guru Muslimah Inpiratif, 02/5/2026).

Karenanya, Minimnya pendidikan nilai-nilai  agama yang benar dalam pendidikan sekuler, memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan. Sebab semakin minimnua  nilai-nilai agama yang tidak didapaki dalam mengatur tatanan hidup generasi, maka semakin membuat para siswa kehilangan kompas hidup dan moral, pun siswa semakin bebas tanpa batas hingga mudah terjerumus ke dalam kemaksiatan dan tindakan criminal. Padahal ketika kita menjadikan nilai-nilai agama sebagai pondasinya, tentu pendidikan yang kuat dan diharapkan mencerdaskan akal pun menjaga hati serta membentuk kepribadian akan membawa perubahan yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’am dan Sunnah.

Keunggulan Sistem Pendidikan Islam

Dalam Islam, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan.

Islam menawarkan paradigma Pendidikan yang lebih komprehensif dan unggul. Karena Islam meletakkan ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan kemuliaan. Dengan visi ini, siswa tidak akan terdorong melakukan kecurangan, karena mereka sadar bahwa kesuksesan sejati bukan hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah. Oleh karena itu pendidikan Islam menitikberatkan pada pembentukan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam), yaitu pola pikir (aqliyah) yang berlandaskan Islam dan pola sikap (nafsiyah) yang tunduk pada syariat. Keduanya harus selaras. Artinya, pelajar tidak hanya tahu mana yang benar, tetapi juga terbiasa melakukan yang benar. Inilah yang akan mencegah lahirnya generasi yang cerdas tapi rusak moralnya.

Kewajiban menuntut ilmu ditegaskan dalam hadis Nabi SAW :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim (HR Ibnu Majah).

Tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya sekadar untuk melahirkan saintis pembangun peradaban. Yang utama justru untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh (syakhshiyyah islaamiyyah). Tujuan utama pendidikan dalam Islam sejalan dengan tujuan penciptaan manusia, yakni untuk mewujudkan hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Pendidikan harus melahirkan manusia yang menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.  Hal ini ditegaskan dalam al-Quran:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (TQS adz-Dzariyat [51]: 56).

Islam juga mewajibkan pemimpin negara untuk memuliakan ilmu, para pencari ilmu dan para pengajarnya. Dalam pandangan Islam, guru adalah profesi mulia dan wajib dimuliakan. Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaan orang yang mengajarkan ilmu:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR at-Tirmidzi). (Kaffah, 08/05/2026).

Islam menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan termasuk pelajar. Sistem sanksi dalam Islam bersifat tegas untuk memberikan efek jera dan bersifat adil sesuai kadar pelanggaran. Sanksi yang diberikan bersifat mendidik, bukan sekadar menghukum. Dengan penerapan hukum yang jelas, perilaku kriminal tidak akan dianggap sebagai “kenakalan biasa”, tetapi sebagai pelanggaran serius yang harus dipertanggungjawabkan. Namun negara dalam sistem Islam tidak hanya mengatur pendidikan secara formal, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung ketakwaan, salah satunya dukungan media yang sehat dan edukatif, pergaulan yang terjaga serta budaya amar ma’ruf nahi munkar. Suasana inilah yang akan mendorong masyarakat, termasuk para siswa, untuk fastabiqul khoirot berlomba dalam kebaikan, bukan dalam keburukan.

Selain itu keberhasilan pendidikan dalam Islam tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus ditopang oleh sinergi tiga pilar yaitu keluarga yang berfungsi dalam penanaman iman dan adab sejak dini, masyarakat/lingkungan sebagai kontrol sosial yang baik dan yang paling utama adalah adanya peran negara sebagai penyedia sarana prasarana sistem pendidikan berbasis syariat Islam. Ketiga pilar ini harus berperan dan berpijak pada akidah dan syariat Islam, sehingga arah pendidikan jelas dan tidak terombang-ambing oleh kepentingan duniawi semata.

Dengan demikian, Solusi Islam bukanlah asal-asal atau cacat, sebab Solusi islam tidak tambal sulam, melainkan menyeluruh dan sistemik. Karena pada dasarnya sistem Pendidikan Islam tidak cukup dalam memperbaiki kurikulum saja, akan tetapi juga memperbaiki tujuan hidup manusia, penjagaan lingkungan social serta berlangsungnya peran sistem hukum dan negara. Dengan kontruksi ini, Pendidikan sejatinya akan mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap memimpun peradaban. (Guru Muslimah Inpiratif, 02/5/2026).

Wallahu a’lam bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *