penas

boltara
OPINI

Wibawa Guru Direndahkan Merupakan Buah Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik

×

Wibawa Guru Direndahkan Merupakan Buah Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik

Sebarkan artikel ini

Oleh: Andriyani Male

Wibawa guru direndahkan

OPINI,mediasulutgo.com —Potret dunia pendidikan hari ini sudah sangat memprihatikan. Adab dan akhlak yang ada pada generasi muda semakin hari semakin terkikis bahkan sampai tercoreng. Adab mereka generasi muda kian hari kian menghilang. Guru yang seharusnya dihormati dan dilindungi namun mendapat perlakuan yang tidak mengenakan. Baru-baru ini viral di sosial media sebuah video yang memperlihatkan beberapa murid dalam suatu kelas mereka mengancungkan jari tengah sambil tertawa sebagai tanda ejekan mereka kepada seorang guru di SMA N 1 Purwakarta. Padahal guru tersebut adalah guru yang mereka temui setiap hari dan mengajarkan mereka pelajaran. Sedih rasanya melihat hal ini.

Video ini menuai banyak kecaman atau kemarahan daripada netizen. Langkah yang diambil oleh pihak sekolah dalam permasalahan ini adalah dengan memberikan skorsing terhadap siswa-siswa tersebut selama 19 Hari. Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat sendiri  menyampaikan bahwa sanksi tersebut bukanlah solusi terbaik untuk membentuk karakter siswa. Beliau mengusulkan bagaimana bentuk hukuman yang edukatif dan berdampak pada perubahan perilaku.

Advertisement
Wibawa guru direndahkan
Scroll kebawah untuk lihat konten

Kasus pelecehan terhadap guru di Purwakarta bukanlah hal pertama terjadi di negeri ini. Namun ada banyak deretan peristiwa pelecehan yang dilakukan oleh murid terhadap guru. Seharusnya ini membutuhkan perhatian yang serius bagi yang bertanggung jawab terhadap sistem pendidikan hari ini. Sudah banyak kasus yang terjadi yang menunjukan krisisnya moral generasi hari ini. Semua ini adalah buah dari penerapan sistem sekulerisme-kapitalisme yang tidak mengedepankan adab terhadap guru.

Hanya demi viralitas sebuah konten menjadi alasan generasi melakukan hal yang seharusnya tidak pantas dilakukan. Pengakuan di sosial media seolah menjadi hal yang penting bagi mereka walaupun konten tersebut memperlihatkan etika yang tidak pantas dipertontonkan.  Peristiwa ini menunjukan bahwa wibawa seorang guru sangat lemah pada hari ini.

Mengapa mereka sangat berani melakukan hal ini? Apakah karena sanksi yang diberikan oleh sekolah terlalu lemah ataukah guru tidak punya kuasa untuk menegur siswa karna takut akan tuntutan jika menegurnya?

Padahal pemerintah telah menerapkan program “Profil Pelajar Pancasila” nyatanya program tersebut hanya sebatas formalitas administratif diatas kertas. Kenyataanya tidak berefek terhadap moralitas siswa yang kian hari semakin berkurang moralitasnya.

Sistem pendidikan Islam sangat berbeda dengan sistem pendidikan sekulerisme-kapitalisme. Sistem pendidikan Islam memiliki kurikulum berbasis akidah Islam. Tujuannya adalah untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam (syakhsiyah Islam) yakni pola pikir dan pola sikap sesuai dengan syariat Islam.

 

Dalam sistem pemerintahan Islam negara memiliki kendali penuh dalam hal mengontrol dan menyaring konten digital yang dapat merusak moral. Negara akan memberikan sanksi yang tegas bagi oknum-oknum yang membuat konten tayangan semisal pembangkangan, pelecehan atau kekerasan. Sanksi ini tujuannya sebagai penebus (jawabir) dosa bagi para pelaku dan pencegah (Zawajir) agar orang lain tidak melakukan hal yang serupa. Sanksi ini terbukti memberikan efek jera namun tetap adil sesuai syariat.

Dalam Islam posisi guru diposisikan sebagai sosok yang sangat mulia dan mereka mendapatkan penghargaan yang tinggi dan kehidupan yang layak oleh negara. Dengan ini wibawa seorang guru Dimata murid dan masyarakat tetap terjaga.

Insya Allah, dengan mekanisme sistem yang seperti ini maka kasus-kasus pelecehan terhadap guru tidak akan terulang kembali. Hari ini kita membutuhkan adanya perbaikan sistem dari sistem pendidikan sekulerisme menuju kepada sistem Islam yang akan menjadi solusi nyata demi terwujudnya generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *