penas

boltara
OPINI

Duri dalam Daging Perdamaian

×

Duri dalam Daging Perdamaian

Sebarkan artikel ini

Oleh: rayyankinasih

perdamaian
Illustrasi

OPINI,mediasulutgo.com — Dunia baru-baru ini dihebohkan oleh konferensi pers bertaraf Internasional, megah dan besar, dihadiri puluhan wartawan, berlatar biru dengan tajuk Board Of Peace—sebuah dewan perdamaian internasional buatan Amerika Serikat di bawah rezim Donald Trump, yang dibentuk untuk mengawal proses transisi, stabilisasi, dan rekonstruksi di Gaza pascakonflik. Dengan menjual istilah “peace” yang dihias sedemiakian indah, Trump berhasil menggaet beberapa negara untuk masuk ke dalam jebakan tikus ini.

Total ada 21 negara yang bergabung dalam BoP dan beberapa diantaranya adalah negera-negera kaum muslim. Di antara perwakilan negara yang menandatangani Piagam BoP pada 11 Februari kemarin, tampak salah satu wajah yang familiar bagi bangsa Indonesia. Presiden Prabowo turut menghadiri konferensi tersebut dengan mengklaim sebagai perwakilan negara dan masyarakat Indonesia. Namun bukan hanya itu, Amerika selaku founder juga mengundang guest star yang tak di duga-duga yakni Israel. Wajah Netanyahu, menteri perdana Israel terpampang nyata dalam konferensi tersebut dan ironisnya Presiden Prabowo juga bersanding dalam forum yang sama bersama penjajah. Bergabungnya Indonesia sebagai anggota sangat disayangkan dan dipertanyakan oleh banyak pihak, sebab dewan perdamaian ini tak lebih dari sekedar duri yang di balut daging perdamaian.

Advertisement
perdamaian
Scroll kebawah untuk lihat konten

Satu duniapun tahu, Amerika sebagai majikan, adalah sekutu dan kawan setia Israel sejak zaman dulu hingga sekarang. Keakraban keduannya telah tampak sejak era kepemimpinan Barack Obama yang menyumbang total bantuan militer sebesar 38 miliar USD. Belanjut hingga sekarang, data terbaru tahun 2023 menyebutkan total sokongan uang cash dan bantuan militer dari Amerika terhadap Israel sebesar 300 triliun per tahun. Sementara di sisi lain, Isreal sebagai sang eksekutor masih terus melanggar gencatan senjata hampir setiap hari. Terhitung sejak serangan pertama di tahun 2024 hingga per hari ini, total korban yang meninggal dunia menyentuh angka 75.000 jiwa. Bahkan di hari pertama Ramadhan, Israel menodai bulan suci tersebut dengan serangan yang menewaskan sejumlah anak-anak dan orang dewasa. Dengan fakta dan data yang beruraian, tanpa berpikir dua kali kita dapat pastikan Amerika dan Israel adalah pelaku utama atau pihak yang paling bertanggung jawab atas merenggangnya ribuan nyawa di Palestina. Jadi, pantaskah kita membicarakan perdamaian dengan para pembunuh?

Sekilas, hadirnya Board of Peace di tengah-tengah konflik timur tengah bagai kucuran air di tengah gurun pasir. Namun nyatanya dewan perdamaian lebih mirip sirkus mainan para penjajah. Amerika dan Israel yang jelas-jelas adalah pelaku, kini datang bak pahlawan di siang bolong. Mereka datang dengan membawa istilah-istilah keren seperti “mengelola transisi Gaza pasca konflik”, “menjaga stabilisasi”, atau “mencegah kekerasan berulang”, beserta lembaran proposal langkah-langkah pemulihan Gaza, yang sebenarnya isinya adalah kebohongan besar. Justru kehadiran BoP mempertegas terpeliharanya eksistensi Israel sebagai negara. Dalam BoP sama sekali tidak membahas hukuman dan sanksi apapun atas tragedi kemanusiaan yang telah Israel sebabkan, juga tidak membicarakan satupun tuntutan pengembalian tanah Palestina yang telah mereka curi.

Sebaliknya, Palestina sebagai korban genosida dan rakyat yang terdzolimi malah tidak dilibatkan sama sekali dalam upaya perdamaian ini. Mulai dari sisi politik hingga keputusan teknis semuanya berada dalam kendali Trumph, yang ujung-ujungnya keputusan ini tidak jauh-jauh dari kepentingan mereka yang ingin menjadikan Gaza sebagai ladang bisnis dan industri. Bahkan dengan dalih stabilisasi, BoP meminta penyerahan atau luncutan senjata dari pihak yang terjajah. Bayangkan saja, bila rumah kalian ingin renovasi oleh orang lain, namun orang lain tersebut tidak melibatkan kalian sama sekali, bahkan untuk meminta izin renovasi pun tidak ada. Kira-kira perdamaian dengan model seperti apa yang ingin di usung dengan cara seperti ini? Inilah penjajahan gaya baru—ketika para korban tidak dilibatkan untuk kemerdekaan mereka sendiri. Ini tidak lebih buruk daripada penjajahan dengan cara pembantaian. Bedanya, ada orang yang membunuh dengan senjata, ada yang membunuh di meja-meja perundingan.

Namun tidak ada yang lebih ironis daripada melihat bergabungnya negara-negara kaum muslim ke dalam mainan buatan para penjajah. Keterlibatan para pemimpin muslim dalam BoP merupakan bukti pengkhianatan terhadap Palestina. Secara sadar, presiden Prabowo mengatakan akan menjamin kedaulatan Israel dan segera membuka hubungan diplomatik dengannya. Maka tampak dari sini, betapa lemahnya Indonesia dan negera-negara kaum muslim yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menurut pada pimpinan yang lebih mirip ketua preman. Di depan kamera berkoar-koar berdiri di sisi palestina dan akan melawan antek-antek asing, namun nyatanya keputusan bergabung ke dalam BoP justru lahir dari ketakutan—ketakutan akan ditambahnya tarif ekspor, takut terganggunya keamanan negri, takut grafik ekonomi jadi turun, takut akan ancaman Donald Trumph, dan ketakutan-ketakutan lainnya yang akan mengancam kepentingan negara sendiri. Ketakutan ini tidak lain lahir ketika manusia meletakkan materi dan manfaat sebagai sesembahan, serta menanggalkan agama dari kehidupan (sekulerisme). Pola pikir materialisme dan sistem kapitalisme yang diemban oleh sebuah negara mendorongnya melakukan apapun untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dan menghindari kerugian seminim-minimnya, bahkan bila itu harus dengan berkhianat. Ini bukan saja pengkhianatan terhadap saudara sesama muslim, namun juga pengkhianatan terhadap Allah dan Rasulnya.

Mengambil jalan dari kalangan musuh laksana membaca buku dua kali, artinya ending ceritanya sudah dapat diprediksikan. Hal ini bahkan sudah di peringatkan oleh Allah dalam Al-Qur’an untuk tidak menjadikan musuh sebagai teman setia/pelindung, apalagi jika sampai menunjukan kecenderungan dan berkontribusi terhadap program-program mereka. Sebab sejarah telah mencatat bahwa Yahudi dan kaum kafir adalah kaum yang suka melanggar janji, bahkan janji yang mereka buat sendiri. Perilaku ingkar janji ini sudah tampak ingkar sejak zaman kenabian Rasullullah, di mana kaum Yahudi di Madinah (Bani Qainuqa’, Bani Nadir, dan Bani Quraizhah) melanggar Piagam Madinah (perjanjian damai dengan Nabi Muhammad SAW). Tidakkah dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa tidak ada perdamaian yang dapat dibicarakan bersama dewan-dewan kafir. Tidak ada kemerdekaan pada orang-orang yang senantiasa melanggar gencatan senjata. Tidak akan ditemukan solusi hakiki bila masih menggantungkan harapan pada pundak-pundak para pembunuh.

Israel selamanya akan selalu memegang predikat ‘penjajah’ yang bertanggung jawab penuh atas perampokan di tanah Palestina. Maka tidak ada cara lain selain mengusir perampok tersebut dengan melakukan jihad. Namun sayangnya dari 50 negara mayoritas muslim, tidak ada satupun dari mereka yang mampu mengirimkan pasukan militernya, bahkan barang satu saja ke Palestina. Jelas masalahnya bukan terletak pada ketidakmampuan, tapi ketidakmauan. Hingga kini, tidak ada negara yang dapat melakukan jihad sebab ketiadaan institusi global yang mewadahi persatuan umat muslim. Hanya negara berkemimpinan Islam-lah yang dapat melakukan jihad, sebaliknya ikut bergabung bersama pasukan militer milik negara kafir seperti Amerika Seerikat hukumnya adalah haram. Karena gerakan ini tidak berlandaskan syariat dan mengerahkan kaum muslim berperang hanya demi melanggengkan eksistensi kekufuran.

Sejarah telah membuktikan keberadaan negara berkemimpinan Islam akan melindungi kehormatan dan kemuliaan kaum muslim. Dalam era kekhalifahan Utsmani, Sultan Abdul Hamid II sebagai khalifah pada saat itu pernah menolak secara tegas permintaan Theodor Hezl, tokoh Zionis Yahudi yang meminta sebidang tanah Palestina walaupun sang khalifah telah ditawari sejumlah harta yang cukup besar. Bayangkan kekuatan sebesar apa yang akan tercipta jika kaum muslim bersatu dan mewujudkan institusi global sebagaimana pada zaman kekhalifaan, sungguh tidak akan ditemukan keterpurukan yang melekat pada jiwa-jiwa kaum muslim di belahan bumi manapun.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *