penas

boltara
EKONOMI BISNISJakarta

Rupiah Tembus Rp17.669 per Dolar AS, Pasar Keuangan Indonesia Bergetar

×

Rupiah Tembus Rp17.669 per Dolar AS, Pasar Keuangan Indonesia Bergetar

Sebarkan artikel ini
Rupiah Tembus Rp17.669
Illustrasi

JAKARTA,mediasulutgo.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat resmi mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah setelah sempat menyentuh level Rp17.669 pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Pelemahan tajam ini langsung mengguncang pasar keuangan nasional dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah menguatnya dolar AS secara global akibat lonjakan inflasi Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Sepanjang tahun 2026, rupiah tercatat sudah melemah sekitar 5,8 persen dan menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia.

Advertisement
Rupiah Tembus Rp17.669
Scroll kebawah untuk lihat konten

Pelemahan rupiah juga berdampak langsung pada pasar modal domestik. IHSG ditutup melemah 1,85 persen ke level 6.599, sementara investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih mencapai Rp464 miliar. Di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun naik ke level 6,81 persen.

BACA JUGA  Jelang PENAS XVII, Kabupaten Gorontalo Perketat Pengamanan

Kondisi pasar semakin tertekan setelah inflasi Amerika Serikat April 2026 tercatat mencapai 3,8 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar. Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa bank sentral AS masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, harga minyak dunia juga ikut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Harga minyak Brent bertahan di kisaran US$110 per barel setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk insiden drone di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global dan meningkatkan tekanan terhadap negara berkembang yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah saat ini masih dalam kategori terkendali. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dan pola musiman kuartal kedua yang setiap tahun meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembagian dividen dan pembayaran impor.

BACA JUGA  Jokowi Siap “Turun Gunung”, PSI dan Projo Malah Berebut Pengaruh

Bank Indonesia juga tetap optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali bergerak di kisaran Rp16 ribuan pada semester berikutnya sesuai asumsi APBN 2026.

Meski demikian, pasar mulai memperkirakan adanya peluang kenaikan BI Rate hingga akhir tahun. Sejumlah analis menilai Bank Indonesia kemungkinan perlu mengambil langkah pengetatan kebijakan guna menjaga stabilitas rupiah dan meredam arus keluar modal asing.

Situasi global yang masih dipenuhi ketidakpastian membuat tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Penguatan dolar AS, tingginya harga minyak dunia, dan potensi kenaikan suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang terus membayangi pasar keuangan Indonesia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *