BOLTARA,mediasulutgo.com – Misteri kematian Wawan Goma (43), tahanan Polres Bolaang Mongondow Utara (Boltara), mulai menuai sorotan. Pihak kuasa hukum korban menduga adanya kelalaian prosedur terkait kondisi kesehatan almarhum selama menjalani masa penahanan.
Kuasa hukum korban, Brayen Tomelo SH, mengungkapkan bahwa sejak awal pihak keluarga telah mengajukan permohonan penangguhan penahanan pada 1 April 2026. Permohonan itu diajukan karena kondisi kesehatan almarhum yang disebut tidak stabil dan tengah menjalani pengobatan rutin.
“Riwayat sakit almarhum yang kami tahu mengalami stroke ringan dan sedang menjalani terapi rutin. Karena itu kami mengajukan penangguhan, baik secara lisan maupun tertulis, atas permintaan almarhum sendiri,” ujar Brayen.
Namun, menurutnya, permohonan tersebut belum sempat diproses karena bertepatan dengan agenda lain di Polres Boltara.
Brayen juga menyoroti tidak adanya transparansi terkait hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan terhadap kliennya selama ditahan. Ia menilai hal tersebut menjadi poin penting yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
“Baik saya maupun keluarga tidak pernah mendapatkan informasi terkait hasil pemeriksaan kesehatan. Padahal itu merupakan kewajiban pihak kepolisian dan tidak seharusnya dilakukan secara tertutup,” tegasnya.
Ia menambahkan, hak penangguhan penahanan telah diatur dalam ketentuan hukum yang berlaku dan seharusnya dapat dipertimbangkan, terlebih jika kondisi kesehatan tahanan menjadi faktor utama.
Atas dasar itu, pihaknya mendesak agar dilakukan investigasi independen guna mengungkap secara terang penyebab kematian Wawan Goma, sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kasat Reskrim Polres Boltara IPTU Mario Sopacoly belum membuahkan hasil. Nomor telepon yang bersangkutan dilaporkan tidak aktif saat dihubungi.
Di sisi lain, Plt Kasie Humas Polres Boltara Aipda Bobi Noe dalam keterangannya kepada wartawan menyebut bahwa pihaknya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap seluruh tahanan.
“Kami setiap hari melakukan pemeriksaan kondisi fisik tahanan melalui tim medis yang ditunjuk. Hasilnya, seluruh tahanan dalam kondisi sehat,” jelas Bobi.(*)















