MEDIASULUTGO.COM – Film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Dwi Laksono mendadak menjadi perbincangan panas di media sosial. Bukan hanya karena isi filmnya yang menyorot situasi Papua, tetapi juga akibat sejumlah agenda nonton bareng atau nobar yang dilaporkan dibubarkan di beberapa daerah.
Kontroversi tersebut justru membuat rasa penasaran publik melonjak tajam. Banyak orang awalnya mengira “Pesta Babi” hanya membahas ritual adat Papua atau tradisi bakar batu. Namun setelah informasi film ini menyebar luas, publik mulai mengetahui bahwa dokumenter tersebut membawa isu yang jauh lebih besar dan sensitif.
Film ini menyoroti persoalan masyarakat adat Papua di tengah proyek-proyek besar yang disebut mengubah bentang alam dan kehidupan warga lokal. Mulai dari pembukaan lahan skala masif, konflik tanah adat, hingga dugaan keterlibatan aparat dalam pengamanan investasi menjadi bagian dari narasi yang diangkat dalam dokumenter tersebut.
“Pesta Babi” disebut mengambil latar di sejumlah wilayah Papua Selatan seperti Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Daerah-daerah itu belakangan memang menjadi perhatian publik karena masuk dalam kawasan pengembangan proyek pangan dan perkebunan berskala besar.
Judul “Pesta Babi” sendiri memicu banyak tanda tanya. Namun dalam konteks film, istilah tersebut tidak sekadar merujuk pada tradisi adat, melainkan menjadi simbol tentang perebutan sumber daya alam dan perubahan sosial yang terjadi di Papua.
Gaya penyampaian film ini disebut mirip dengan karya-karya investigatif Dandhy Laksono sebelumnya yang kerap mengangkat isu lingkungan, politik, dan konflik kepentingan. Nama Dandhy sendiri sebelumnya dikenal luas lewat sejumlah dokumenter kontroversial yang ramai diperbincangkan publik nasional.
Di berbagai daerah, pemutaran film “Pesta Babi” dikabarkan mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa, aktivis, hingga komunitas masyarakat sipil. Banyak penonton datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga mengikuti diskusi panjang setelah pemutaran selesai.
Namun di sisi lain, film ini juga memunculkan pro dan kontra. Ada pihak yang menilai dokumenter tersebut membuka mata publik mengenai kondisi masyarakat adat Papua, sementara pihak lain menganggap narasi yang disampaikan berpotensi memicu persepsi negatif terhadap situasi keamanan di wilayah tersebut.
Polemik semakin memanas setelah sejumlah video pembubaran nobar beredar luas di media sosial. Momen itu justru membuat nama “Pesta Babi” semakin viral dan ramai dicari publik di internet.
Hingga kini, film dokumenter tersebut belum tayang luas di bioskop komersial maupun platform streaming besar. Sebagian besar pemutaran masih dilakukan melalui jaringan komunitas dan forum diskusi independen di berbagai kota.
Fenomena viral “Pesta Babi” akhirnya bukan lagi sekadar soal sebuah film dokumenter, tetapi juga tentang bagaimana isu Papua, kebebasan berekspresi, dan kritik sosial kembali menjadi perdebatan besar di ruang publik Indonesia.(*)















