JAKARTA|mediasulutgo.com – PT Pertamina (Persero) membuat publik terkejut setelah memutuskan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 Mei 2026, meski harga minyak dunia sedang melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Keputusan tersebut membuat seluruh harga BBM Pertamina tetap bertahan, baik untuk jenis subsidi maupun non-subsidi. Berdasarkan data terbaru MyPertamina, harga Pertamax masih berada di level Rp12.300 per liter.
Sementara Pertamax Turbo tetap dijual Rp19.400 per liter, Dexlite Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter. Untuk BBM subsidi, Pertalite masih dipatok Rp10.000 per liter dan Solar subsidi bertahan di angka Rp6.800 per liter.
Kondisi ini cukup mengejutkan karena harga minyak mentah global justru sedang mengalami kenaikan signifikan. Rata-rata harga minyak Brent dalam dua bulan terakhir tercatat mencapai US$100,69 per barel, naik tajam dibanding periode sebelumnya yang berada di level US$85,20 per barel.
Lonjakan juga terjadi pada minyak mentah jenis WTI yang naik menjadi rata-rata US$94,19 per barel dari sebelumnya US$78,35 per barel.
Kenaikan harga minyak dunia tersebut seharusnya berdampak langsung terhadap biaya impor energi Indonesia. Apalagi formula penentuan harga BBM nasional mengacu pada rata-rata harga minyak publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Namun pemerintah dan Pertamina memilih menahan harga BBM di tengah tekanan global tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
Selain faktor ekonomi, keputusan mempertahankan harga BBM juga disebut mempertimbangkan dampak sosial dan politik apabila kenaikan dilakukan di tengah kondisi masyarakat yang masih sensitif terhadap harga kebutuhan pokok dan energi.(*)















