LIMBOTO,mediasulutgo.com — Waktu menuju Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan 2026 kian menipis. Hanya sekitar satu bulan tersisa, Pemerintah Kabupaten Gorontalo langsung tancap gas mematangkan seluruh persiapan, dari penginapan hingga geliat UMKM lokal.
Sorotan utama kini tertuju pada kesiapan homestay warga. Ribuan peserta dari seluruh Indonesia akan menginap di rumah penduduk, membuat pemerintah tak ingin ambil risiko soal kenyamanan.
“Khususnya hari ini, kita sudah melakukan verifikasi terhadap rumah-rumah warga sebagai homestay. Kami ingin memastikan secara langsung kesiapan dan kelayakan setiap rumah tersebut,” tegas Bupati Gorontalo, Sofyan, Sabtu (25/04/2026).
Langkah ini jadi kunci penting. Bukan hanya soal tempat tidur, tetapi juga citra Gorontalo sebagai tuan rumah event nasional.
Di sisi lain, area Expo KTNA diprediksi bakal membludak. Permintaan booth meningkat, termasuk dari peserta luar daerah yang ingin menampilkan produk unggulan.
“Kita kolaborasi untuk tambah booth. Dikhawatirkan yang disiapkan melalui BI kurang, maka kita akan tambah,” ungkap Sofyan.
Menariknya, pemerintah tak hanya fokus pada peserta luar. UMKM lokal justru diprioritaskan agar bisa tampil di panggung nasional.
“Booth umum kita siapkan untuk UMKM lokal. Kita utamakan mereka,” katanya.
Momentum ini diminta benar-benar dimanfaatkan. Pelaku UMKM didorong menjual produk khas yang punya identitas kuat.
“Untuk UMKM kita pesan agar menjual jajanan makanan khas daerah, seperti pisang goreng, kopi Gorontalo, dan lainnya,” tambahnya.
Dengan waktu yang makin sempit, Gorontalo kini berpacu dengan deadline. Namun di balik itu, ada peluang besar: menjadikan PENAS 2026 sebagai etalase kekuatan daerah—dari keramahan warga hingga kekayaan kuliner lokal.(**)















