penas

boltara
EKONOMI BISNISJakartaNASIONAL

KFC RI Terjepit, Rugi Susut, Utang Meledak, Gerai Berguguran

×

KFC RI Terjepit, Rugi Susut, Utang Meledak, Gerai Berguguran

Sebarkan artikel ini
KFC RI
KFC RI (Foto: Istimewah)

JAKARTA — Tekanan terhadap PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola KFC di Indonesia, belum mereda sepanjang 2025. Di balik perbaikan angka kerugian, tersimpan persoalan yang lebih dalam: utang melonjak tajam, gerai menyusut, dan peringatan serius soal kelangsungan usaha.

Laporan keuangan terbaru menunjukkan FAST masih membukukan rugi bersih Rp369 miliar. Angka ini memang turun dari Rp798 miliar pada tahun sebelumnya, namun belum cukup membawa perusahaan keluar dari tekanan. Di level operasional, kerugian masih terjadi dengan rugi usaha Rp311 miliar, sementara pendapatan stagnan di kisaran Rp4,88 triliun.

Advertisement
KFC RI
Scroll kebawah untuk lihat konten

Situasi kian menekan saat melihat struktur keuangan. Utang bank jangka panjang melonjak drastis menjadi Rp1,82 triliun, dari hanya sekitar Rp353 miliar pada tahun sebelumnya. Lonjakan ini menjadi sinyal kuat meningkatnya ketergantungan pada pembiayaan eksternal.

BACA JUGA  Gaji ke-13 ASN Cair Juni 2026, Ini Besaran Lengkapnya

Lebih jauh, auditor memberikan peringatan keras terkait kelangsungan usaha. Liabilitas jangka pendek tercatat melampaui aset lancar hingga Rp1,3 triliun, diperparah dengan akumulasi kerugian yang telah mencapai Rp507 miliar. Kondisi ini mencerminkan tekanan likuiditas yang nyata.

Di lapangan, dampaknya mulai terlihat. Jumlah gerai KFC menyusut dari 715 outlet pada 2024 menjadi 690 outlet di akhir 2025. Penutupan puluhan gerai ini menandakan adanya penyesuaian besar dalam strategi bisnis.

Ironisnya, di tengah efisiensi tersebut, perusahaan tetap menggelontorkan belanja modal jumbo. Arus kas untuk investasi mencapai Rp1 triliun, sebagian besar digunakan untuk renovasi dan penambahan aset tetap. Langkah ini menunjukkan upaya bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.

BACA JUGA  QRIS di Pasar Tradisional Meluas, Pemerintah Tegaskan Tunai Tetap Berlaku

Meski begitu, sedikit harapan masih terlihat dari arus kas operasional yang tetap positif sebesar Rp203 miliar. Angka ini menjadi bantalan sementara, meski belum cukup kuat menahan tekanan dari utang dan kerugian yang terus membayangi.

Kondisi FAST saat ini mencerminkan fase krusial: bertahan di tengah tekanan finansial yang berat, sambil mencari jalan keluar agar tidak semakin dalam terjerat masalah likuiditas. Jika tak segera menemukan titik balik, tekanan ini berpotensi berlanjut ke tahun-tahun berikutnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *