SINISME

oleh -379 Dilihat

SINISME
Oleh :
Fory Armin Naway
Guru Besar Universitas Negeri Gorontalo dan Ketua PGRI Kab. Gorontalo

 

OPINI, mediasulutgo.com — Sinisme mengandung arti dan makna, sebagai suatu pandangan atau pernyataan sikap yang bertendensi mengejek maupun memandang rendah seseorang dan atau menempatkan kualitas diri sendiri yang berkibar dan memandang orang lain terpuruk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Sinisme diartikan sebagai pandangan atau gagasan yang tidak melihat suatu kebaikan apapun dan meragukan sifat baik yang ada pada orang lain.

Dengan begitu, sinisme masuk dalam kategori sebagai “penyakit hati” yang selalu memandang orang lain sangat tidak berarti, tidak benar dan selalu salah. Bahkan beberapa ahli psikologi berpendapat, bahwa sikap sinis atau sinisme terhadap orang lain, diidentifikasi hanya dimiliki oleh mereka yang cenderung percaya diri berlebihan, tidak mengenal dirinya secara utuh, menganggap diri yang paling baik dan paling benar, menempatkan orang lain tidak memiliki kemampuan sehingga orang lain itu dianggapnya tidak mampu dan tidak layak mendapatkan sesuatu seperti dirinya.

Dalam ranah realitas kehidupan yang sesungguhnya, sinis atau sinisme memiliki 2 dimensi yang merujuk pada dirinya sendiri dan merujuk pada orang lain. Baik sinisme terhadap diri sendiri dan orang lain tersebut, biasanya dipicu oleh ketidakmampuan seseorang mengadopsi nilai-nilai kebaikan pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Dengan begitu, sinisme akan menghinggap dan menggejala pada seseorang yang cenderung “lupa diri” dan mengabaikan nilai-nilai positif maupun nilai-nilai kebaikan pada dirinya dan orang lain.

Sebagai sebuah penyakit yang bersumber dari ketidakjernihan berpikir, bertindak dan bersikap, maka sinisme adalah sebuah “ironi” yang sebenarnya sangat menyedihkan, bahkan tidak disadari menjadi sumber keruntuhan, kejatuhan dan sumber keterpurukan. Dalam konteks yang lebih luas lagi,, sinisme merupakan cermin dari ketidakmampuan seseorang dalam mengevaluasi diri, lupa bercermin diri, karena keterlenaannya pada kehidupan dirinya sendiri. Dalam kondisi yang demikian, maka segala kebaikan, kelebihan dan prestasi orang lain dianggapnya belum sepadan dengannya, masih dia yang tetap lebih hebat dan berprestasi. Akibatnya, segala bentuk pikiran, tindakan dan kata-katanya akan selalu “salah kaprah” dan salah sasaran, bahkan pikiran-pikiran negatif kepada dirinya dan orang lain terus saja bergelayut dalam benaknya, selalu berprasangka buruk dan menempatkan orang lain selalu salah di hadapannya.