LIMBOTO,mediasulutgo.com — Pemerintah Kabupaten Gorontalo bergerak cepat merespons keluhan masyarakat terkait putusnya akses jalan di Dusun Durian, Desa Buhu, Kecamatan Tibawa. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Pemkab Gorontalo langsung menurunkan tim untuk melakukan peninjauan lapangan, Kamis (08/01/2026).
Jalan yang mengalami kerusakan tersebut merupakan satu-satunya jalur penghubung antara Desa Ulobua dan wilayah sekitarnya. Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas warga, mulai dari mobilitas harian hingga kelancaran roda perekonomian masyarakat.
Peninjauan dipimpin langsung Kepala Dinas PUPR Kabupaten Gorontalo, Risman Umar, bersama unsur pemerintah desa setempat. Hadir pula Kepala Desa Buhu, Risman Talipi, serta Penjabat Kepala Desa Ulobua, Yunus Ardin, sebagai wujud sinergi pemerintah daerah dan desa dalam menangani persoalan infrastruktur.
Risman Umar menjelaskan, peninjauan dilakukan untuk memverifikasi laporan masyarakat sekaligus menilai tingkat kerusakan secara menyeluruh di lapangan.
“Kami ingin memastikan laporan masyarakat sesuai dengan kondisi sebenarnya. Setelah kami tinjau langsung, kerusakannya ternyata cukup serius dan bahkan lebih parah dari perkiraan awal,” ungkap Risman.
Ia mengungkapkan, kerusakan jalan tidak hanya terjadi pada satu titik, melainkan meluas hingga empat titik kritis yang memerlukan penanganan komprehensif dan terencana.
“Awalnya hanya dilaporkan satu titik, namun setelah dicek langsung di lapangan terdapat empat titik rawan yang harus ditangani secara serius,” jelasnya.
Menurut Risman, apabila tidak segera ditangani, kondisi tersebut berpotensi menghambat aktivitas ekonomi warga serta meningkatkan risiko terputusnya akses transportasi secara total, termasuk ancaman kerusakan terhadap jembatan di sekitar lokasi.
Selain perbaikan jalan dan jembatan, PUPR juga menilai penanganan alur sungai di sekitar lokasi menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang. Berdasarkan hasil peninjauan, kerusakan jalan dipicu oleh luapan sungai saat intensitas hujan tinggi.
“Penanganannya tidak bisa parsial. Selain jalan dan jembatan, normalisasi sungai juga harus menjadi perhatian utama. Jika sungainya tidak ditangani, kerusakan serupa berpotensi kembali terulang,” tegasnya.
Di tengah kondisi cuaca yang masih fluktuatif, Pemerintah Kabupaten Gorontalo juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kerusakan lanjutan akibat curah hujan tinggi yang masih sering terjadi.
“Hujan deras masih kerap turun. Jika kembali terjadi banjir, kerusakan bisa semakin parah. Karena itu, langkah antisipatif sangat dibutuhkan,” kata Risman.
Sebagai tindak lanjut, seluruh hasil peninjauan lapangan akan segera dilaporkan kepada Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, untuk kemudian dikoordinasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, termasuk Balai Wilayah Sungai dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Kami akan melaporkan langsung kepada Pak Bupati. Penanganan ini membutuhkan kolaborasi lintas OPD agar solusi yang diambil tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.
Risman juga mengapresiasi peran aktif pemerintah desa yang dinilai responsif dalam menyampaikan informasi kronologis kerusakan, meskipun dihadapkan pada keterbatasan anggaran desa di awal tahun.
“Pemerintah desa sangat kooperatif dan komunikatif. Namun kita pahami, di awal tahun anggaran tentu ada keterbatasan. Skala kerusakan ini memang membutuhkan dukungan anggaran yang lebih besar dan sinergi semua pihak,” pungkasnya.














