OPINI,mediasulutgo.com — Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara media dan lembaga keagamaan sering kali diwarnai ketegangan akibat cara pemberitaan yang tidak proporsional. Alih-alih menjadi sarana edukasi publik, sebagian tayangan justru terjebak pada sensasi dan stereotipe yang memperkeruh pemahaman masyarakat terhadap institusi Islam. Pola ini menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana media memahami nilai-nilai budaya dan spiritual yang hidup di balik tembok pesantren? Ketika realitas keagamaan dibungkus dengan sudut pandang yang sempit dan provokatif, maka yang muncul bukan pemahaman, melainkan prasangka.
Kasus tayangan Exposed dari salah satu TV Nasional yang menampilkan pesantren dengan narasi “santri minum susu saja harus jongkok” adalah fakta actual yang sempat menual gelombang kritik luas. Tayangan itu dianggap merendahkan symbol agama dan melemahkan citra Lembaga pesantren sebagai pusat pendidikan Islam. Komisi penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jakarta menilai program tersebut melanggar norma penghormatan terhadap agama dan Lembaga pendidikan, hingga akhirnya KPI menjatuhkan sanksi penghentian sementara.
Fakta ini membuka kembali perbincangan lama: bagaimana media membingkai (framing) Islam dan institusi keagamaannya. Dalam teori agenda setting yang dikemukakan oleh Bernard Cohen, media mungkin tidak bisa menentukan apa yang kita pikirkan, tetapi sangat berhasil menentukan apa yang kita pikirkan tentangnya. Dengan kata lain, media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik terhadap suatu isu—termasuk terhadap Islam dan pesantren.
Sayangnya, framing negatif terhadap Islam bukan fenomena baru. Dalam berbagai konteks global, pelaku yang berlabel “muslim” seringkali mendapat liputan lebih besar ketika terlibat dalam isu kriminal, dibanding pelaku nonmuslim pada kasus serupa. Pola ini memperkuat stereotipe bahwa Islam identik dengan keterbelakangan, kekerasan, atau ketidaksesuaian dengan dunia modern.
Namun jika kita menengok ke dalam, pesantren justru memainkan peran yang sangat strategis dalam membentuk karakter bangsa. Lembaga ini telah menjadi wadah pendidikan moral dan intelektual selama ratusan tahun. Di sana, para santri tidak hanya belajar agama, tetapi juga diajarkan nilai-nilai sosial, disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan berpikir kritis yang menjadi fondasi moral masyarakat Indonesia.
Kemudian di lihat dari segi fakta Empiris tentang persepsi public. Data dari Indonesian Institude of Public Opinion (2024) menunjukan 83% Masyarakat Indonesia lebih mempercayai kiai dan tokoh agama disbanding media aurs utama. Ini artinya, kepercayaan itu diterjemahkan menjadi Gerakan nyata di dunia digital. Tantangan dan peluang pesantren hadir bersamaan seperti Fakta aktual dari lapanganjuga dinyatakan oleh tokoh agama Muhammad Lukmanbahwa “santri harus mampu menguasai keterampilan digital”untuk menunjang dakwah dan pendidikan. Para santri belajar membuat video dakwah, menulis artikel, hingga merancang karya ilmiah. Ini menunjukkan bahwa pesantren sedang beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan ruh keislamannya.
“Media Gak Netral-Netral Amat: Saat Framing Bikin Islam Terlihat Salah”
Dapat ditinjau bahwa peristiwa ini memperlihatkan bagaimana media massa memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik terhadap Islam dan pesantren. Dalam konteks teori agenda setting Bernard Cohen, media mungkin tidak dapat menentukan apa yang harus dipikirkan masyarakat, tetapi mampu menentukan apa yang masyarakat pikirkan tentang sesuatu. Artinya, media memiliki kekuatan simbolik dalam membentuk citra dan opini terhadap suatu kelompok sosial. Ketika pesantren ditampilkan dengan narasi provokatif atau sepotong-sepotong, hal itu tidak hanya menciptakan persepsi negatif, tetapi juga memperkuat stereotipe lama bahwa Islam identik dengan keterbelakangan atau ketertinggalan dari dunia modern. Dalam artian disini penulis menggarisbawahi kurangnya sensitivitas kultural dan pemahaman konteks sosial dalam praktik produksi media yang mengangkat tema keagamaan.
Fenomena framing negatif terhadap pesantren tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang lebih luas. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tumbuh dari tradisi keikhlasan, pengabdian, dan kesederhanaan. Di dalamnya, santri dibentuk tidak hanya sebagai pelajar agama, tetapi juga sebagai individu yang berdisiplin, beretika, dan memiliki tanggung jawab sosial tinggi. Nilai-nilai seperti ta’dhimkepada guru, penghormatan, dan ketundukan spiritual sering kali disalahpahami oleh masyarakat luar sebagai simbol ketertinggalan. Padahal, dalam tradisi pesantren, hal-hal tersebut merupakan sarana pembentukan karakter dan spiritualitas. Ketika media tidak memahami nilai-nilai budaya ini dan menampilkannya dengan kacamata materialistik, yang muncul adalah kesalahpahaman struktural yang melahirkan stigma terhadap pesantren.
Peran Pesantren: “Reclaim the Narrative”
Pesantren bukan sekadar objek pemberitaan, melainkan subjek perubahan yang mampu menciptakan narasi tandingan terhadap framing negatif media. Dengan memanfaatkan kreativitas santri di dunia digital—melalui pembuatan video dakwah, penulisan artikel, dan karya ilmiah—pesantren dapat menampilkan wajah Islam yang sejuk, moderat, dan solutif. Di sisi lain, tulisan ini menawarkan gagasan sinergi antara media dan pesantren sebagai dua kekuatan sosial yang bisa saling melengkapi: media berperan menyebarkan ide dan membangun opini publik yang edukatif, sementara pesantren mencetak sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak. Dalam konteks ini, santri masa kini digambarkan sebagai generasi ganda yang menguasai kitab kuning sekaligus teknologi digital, menjadi penjaga etika digital dan garda terdepan dalam menghadirkan citra Islam yang cerdas, teduh, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Pandangan tersebut dikuatkan dengan nilai moral dan teologis yang menekankan keseimbangan antara ilmu dunia dan akhirat, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 201 dan sabda Nabi saw. bahwa ilmu adalah kunci untuk meraih kebahagiaan dunia sekaligus keselamatan akhirat. Akhirnya, tulisan ini mengarahkan pembaca pada visi sosial yang lebih luas: pesantren sebagai benteng moral anak didik bangsa di tengah derasnya arus informasi, tempat lahirnya generasi beradab yang tidak hanya menjaga marwah Islam, tetapi juga menegakkan nilai kemanusiaan dan etika publik dalam ruang digital.
Dalam kasus ini, Kekuatan utama pesantren hari ini terletakpada kemampuannya membangun narasi tandingan atas citramiring yang kerap disebarkan media. Santri tidak lagi sekadarmenjadi objek pemberitaan, tetapi subjek yang mampumenciptakan wacana baru melalui kreativitas di dunia digital—dari video dakwah yang menyejukkan, artikel yang mencerahkan, hingga karya ilmiah yang menunjukkan bahwaIslam adalah agama yang adaptif dan penuh solusi.
Seperti firman Allah Swt. dalam QS. An-Nahl ayat 125,
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚإِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahuitentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
pesan itu menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengancara yang lembut, cerdas, dan membangun. Dalam kerangkayang lebih luas, media dan pesantren sesungguhnya tak perlusaling berhadapan. Keduanya bisa bersinergi untukmembentuk opini publik yang sehat—media dengankekuatannya menyebarkan gagasan, dan pesantren denganperannya mencetak manusia berilmu dan berakhlak.
Prinsip ini sejalan dengan pesan QS. Al-Hujurat ayat 13,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dariseorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikankamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamusaling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuilagi Maha Mengenal.
Ayat ini berpesan bahwa manusia diciptakan bersuku-sukudan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan salingmenuding.
Santri masa kini hadir dengan wajah baru: mereka membacakitab kuning sekaligus menguasai dunia digital. Mereka bukanhanya penjaga tradisi, tetapi juga penjaga etika di ruang maya—generasi yang menebar nilai, bukan sekadar konten.
Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” (HR. Ahmad), dan pesan itu kini menemukan relevansinya di tangan para santrikreatif yang membawa nilai Islam ke ruang publik modern. Di sisi lain, keseimbangan antara ilmu dunia dan akhirat tetapmenjadi napas utama pendidikan pesantren. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 201, “Ya Tuhan kami, berilahkami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat,” menjadipengingat bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiringdengan kematangan spiritual.
Pada akhirnya, pesantren bukan hanya benteng moral di tengah gempuran informasi yang tak terbendung, tetapi juga sumber inspirasi perubahan. Ketika santri menjaga adab di dunia digital, mereka sedang menegakkan kembali martabatIslam di tengah masyarakat yang haus akan keteladanan. Melalui ilmu, akhlak, dan teknologi, pesantren bisamenunjukkan bahwa kemodernan tidak harus menjauh darinilai-nilai ketuhanan—justru dari santrilah peradaban yang beradab itu bisa tumbuh Kembali.












