BOLTARA,mediasulutgo.com — Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) meresmikan sekaligus menggelar doa syukuran pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) toilet beserta perabotan pendukung di SPNF SKB Kaidipang, sebagai bagian dari penguatan layanan pendidikan nonformal bagi masyarakat.
Peresmian tersebut dihadiri langsung Bupati Boltara Dr. Sirajudin Lasena, Ketua Komisi III DPRD, Asisten Sekda, Staf Ahli Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Bidang PAUD, tokoh agama, serta masyarakat setempat.
Kepala SPNF SKB Kaidipang, Yanto Sumaila, dalam laporannya menyampaikan bahwa pembangunan RKB toilet dan perabotan lainnya merupakan bagian dari program revitalisasi yang mulai digagas sejak Agustus 2025 dengan total anggaran sebesar Rp616.340.000.
“Pembangunan ini mendapat apresiasi dari Kementerian karena dinilai sebagai salah satu pelaksanaan pembangunan tercepat di Indonesia,” ujar Yanto.
Ia juga mengungkapkan capaian SKB Kaidipang dalam mencetak lulusan pendidikan kesetaraan tahun 2025, yakni Paket A sebanyak 10 orang, Paket B 39 orang, dan Paket C mencapai 120 warga belajar. Sementara untuk tahun 2026, jumlah peserta didik tercatat sebanyak 225 warga belajar.
Saat ini, SKB Kaidipang didukung oleh 11 Aparatur Sipil Negara (PNS) dan 18 tutor sukarela yang aktif mendampingi warga belajar. Yanto menegaskan komitmen lembaganya dalam menangani anak-anak putus sekolah melalui slogan, “Anda putus sekolah, kami solusinya.”
“Semua capaian ini tidak terlepas dari bimbingan dan perhatian langsung Bupati Boltara serta Kepala Dinas Pendidikan,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Bupati Boltara Dr. Sirajudin Lasena menegaskan bahwa pembangunan sarana SKB merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin akses pendidikan nonformal bagi masyarakat.
“Ini adalah bukti negara hadir. Negara hadir dalam penyelenggaraan sarana pendidikan nonformal melalui pembangunan fasilitas SKB,” tegas Sirajudin.
Ia meminta agar seluruh fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara maksimal dengan perencanaan sistem pendidikan yang matang dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kita tidak boleh hanya terpaku pada pola lama. Pendidikan harus mampu membaca perkembangan di luar sekolah,” katanya.
Bupati juga menekankan pentingnya isu pangan sebagai sektor strategis yang perlu diperkenalkan kepada warga binaan SKB.
“Warga belajar SKB harus mampu melihat potensi pangan di sekitar mereka. Sekolah bukan hanya pintu masuk untuk mengejar ijazah, tetapi tempat membentuk soft skill yang dibutuhkan masyarakat,” jelasnya.
Menurut Sirajudin, dunia pendidikan saat ini dituntut mampu menjawab kebutuhan pasar melalui kurikulum yang aplikatif dan berbasis keterampilan, sehingga lulusan pendidikan nonformal memiliki daya saing dan kemandirian.
“Esensi keberadaan SKB adalah membentuk keterampilan hidup. Pendidikan harus melatih warga belajar agar siap menghadapi realitas sosial dan ekonomi,” pungkasnya.(**)














