LIMBOTO,mediasulutgo.com — Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Dr. Abd. Waris, S.Pd., M.Pd., menegaskan komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Gorontalo dalam melakukan restorasi pendidikan yang maju, religius, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut disampaikannya usai membuka Kegiatan Pelatihan Hypnoteaching bagi Guru Sekolah Dasar se-Kabupaten Gorontalo yang digelar di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Senin (29/12/2025).
Dr. Abd. Waris menyampaikan bahwa penugasannya sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan merupakan amanah langsung dari Bupati Gorontalo Sofyan Puhi untuk mengawal visi besar pembangunan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan. Ia menegaskan, arah kebijakan pendidikan daerah saat ini selaras dengan visi kepala daerah.
“Secara global ada tiga tugas besar yang menjadi fokus kami, yakni mewujudkan sumber daya manusia yang beragama, berbudaya, dan kompetitif. Ini sejalan dengan misi Bupati Sofyan Puhi dan Wakil Bupati Tonny S. Junus,” ujar Dr. Abd. Waris.
Pada aspek religius, penguatan nilai keagamaan dilakukan secara menyeluruh, dimulai dari internal Dinas Pendidikan dan Kebudayaan hingga ke seluruh satuan pendidikan. Di lingkungan dinas, telah diterapkan program qiraah Al-Qur’an bagi seluruh pegawai dengan target khatam setiap bulan.
“Alhamdulillah, hampir seluruh pegawai sudah menyelesaikan targetnya. Insyaallah pada 31 Desember ini kita akan khatam Al-Qur’an bersama,” ungkapnya.
Di tingkat sekolah, Pemerintah Kabupaten Gorontalo menerapkan Program Gema Siswa Bersalawat setiap pagi serta GEMA atau Gemar Membaca Al-Qur’an setiap hari Jumat. Sementara bagi peserta didik nonmuslim, pemerintah tetap memberikan ruang dan fasilitasi yang setara dengan menghadirkan guru agama, pendeta, maupun mentor sesuai keyakinan masing-masing.
“Kami memastikan tidak ada diskriminasi. Semua peserta didik mendapatkan pembinaan keagamaan sesuai dengan agama dan kepercayaannya,” tegas Dr. Abd. Waris.
Selain itu, shalat Dzuhur berjamaah diterapkan mulai dari jenjang SD hingga SMP, termasuk di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Seluruh aktivitas pembelajaran dihentikan 30 menit sebelum azan Dzuhur sesuai dengan surat edaran Bupati Gorontalo.
“Ini bagian dari pembentukan karakter. Jika religiusitas kuat, maka perilaku negatif akan terkikis dengan sendirinya,” katanya.
Sebagai bentuk keseriusan, Pemerintah Kabupaten Gorontalo menargetkan lulusan SD memiliki dua bukti kelulusan, yakni ijazah reguler dan sertifikat mampu membaca Al-Qur’an. Pada jenjang SMP, peserta didik ditargetkan telah khatam Al-Qur’an yang dibuktikan dengan sertifikat resmi.
“Kami ingin lulusan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki bekal moral dan spiritual yang kuat,” jelasnya.
Pada aspek kebudayaan, Dr. Abd. Waris menegaskan arahan Bupati Gorontalo untuk menghadirkan ikon rumah adat Gorontalo yang representatif sebagai simbol identitas daerah. Penguatan kebudayaan ini akan didukung melalui penataan infrastruktur, fasilitas, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan melibatkan lembaga adat.
“Insyaallah pada tahun ajaran baru nanti kami akan duduk bersama lembaga adat untuk menyusun program-program strategis penguatan budaya Gorontalo,” ujarnya.
Penguatan kebudayaan juga diperkuat melalui Peraturan Bupati Gorontalo Nomor 23 Tahun 2025 tentang Kurikulum Muatan Lokal yang telah disosialisasikan ke seluruh sekolah. Muatan lokal tersebut mencakup Bahasa Gorontalo dan budaya daerah, Bahasa Arab, pendidikan lingkungan hidup, serta pendidikan jasmani berbasis olahraga tradisional seperti longgo dan tenggedi.
Sementara itu, dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah menggelar rapat strategis bersama kepala sekolah, koordinator wilayah, dan pengawas sekolah dengan fokus pada peningkatan literasi dan numerasi.
“Dalam pendidikan ada tiga hal yang harus kita bangun secara utuh, yakni keilmuan, keterampilan, dan karakter. Anak-anak harus cerdas, terampil, dan berakhlak,” pungkas Dr. Abd. Waris.
Melalui langkah-langkah strategis tersebut, Pemerintah Kabupaten Gorontalo optimistis mampu melahirkan generasi unggul yang berdaya saing tinggi serta berakar kuat pada nilai agama dan budaya daerah.(**)














